Filosofi Sang Edelweiss
Sumber dari google.
Filosofi Sang Edelweiss
Saya berfikir tak seorangpun yang tak mengenal bunga edelweiss. Si cantik yang biasa tumbuh subur di ketinggian lebih dari 2000 mdpl.
Ada suatu masa, ketika para pendaki gunung akan merasa lebih keren ketika turun dari puncak dapat mempersembahkan setangkai edelweiss yang dipetik langsung dengan tangan sendiri untuk orang terkasih. Berharap cinta merekapun bertaut abadi seperti halnya bunga edelweiss sang kembang abadi.
Mengapa edelweiss identik sebagai bunga abadi?
Anaphalis javanica, yang dikenal secara populer sebagai Edelweiss jawa (Javanese edelweiss) atau Bunga Senduro, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara.
Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka.
Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.
Lantas mengapa bunga dan daun edelweis tak pernah layu, sehingga diberi gelar “bunga abadi” ?
Dikutip dari laman resmi Kementerian Lingkungan hidup, Bunga Edelweis hidup ditempat yang kering, sehingga kadar air dalam tumbuhan ini pun rendah, jadi meskipun kekurangan air atau tidak ada suplay air (bila dipetik) tidak terlalu banyak penurunan kadar air sehingga seolah-olah tidak apa perubahan (tidak layu).
Mereka hanya tumbuh di puncak-puncak gunung yang tinggi (diatas 2.400 m dpl)
Bunga yang satu ini juga berstatus sebagai "tumbuhan langka”, karena habitat yang sangat terbatas (endemik) dan pupulasinya cenderung menurun (banyak mengalami gangguan), tidak heran mereka semakin sulit ditemukan. Di tempat tumbuh yang ekstrim jenis-jenis hayati sangat rentan dan populasinya cenderung menurun. Sobat, tugas kita saat ini adalah merubah status ”langka” menjadi ”umum”, atau kalau bisa ganti status menjadi ”melimpah”.
Status langka ini tidak jarang dibantu dengan pengrusakan habitat dan pengambilan bunga oleh para pendaki gunung, sehingga harus ”dilindungi”. Mulai tanggal 29 Juni 2018, edelweis jawa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Di tatar Pasundan, edelweis tumbuh rukun dengan dua saudara semarganya yaitu sembung gunung (A. longifolia dan A. Maxima) yang termasuk kepada keluarga aster-asteran (Asteraceae). A. javanica mempunyai tampilan yang paling indah diantara saudara-saudaranya, sehinga pantas mendapat gelar “ratunya bunga edelweiss”
Sumber bacaan:
Edelweiss adalah salah satu bunga yang tumbuh di sebagian kecil Eropa dan Asia yang dikenal secara universal.
Bunga edelweiss memiliki tampilan yang mudah dikenali, yakni berwarna putih, kelopak kecil, dan batang pendek.
Bunga edelweiss banyak digunakan sebagai simbol individualisme yang tangguh karena pertumbuhannya di dataran tinggi Pegunungan Alpen yang sangat dingin.
Edelweiss tetap menjadi bunga populer hingga saat ini dan memiliki sejumlah keistimewaan, kegunaan, dan makna seperti bunga lainnya.
Dari mana bunga edelweiss berasal? Lihat Foto Bunga Edelweiss putih paling sering dikaitkan dengan Pegunungan Alpen Eropa, tetapi juga ditemukan di Pegunungan Carpathian dan Pyrenees. Edelweiss adalah bunga nasional Swiss dan sangat terkait dengan budaya Rumania, Austria, serta Italia. Bunga ini umumnya digambarkan dalam literatur dan seni sebagai muncul langsung dari batu gundul. Bunga edelweiss cenderung tumbuh di tanah berbatu dan berkapur di sekitar tepi padang rumput terbuka. Sebagian besar tanaman edelweiss yang belum diperbaiki mekar pada Juli-September, terutama di daerah asalnya. Kultivar yang sudah diperbaiki bisa mekar sedikit lebih awal pada Mei untuk memperpanjang musim sedikit.
Sumber bacaan:
Kegunaan dan manfaat bunga edelweiss Selain sebagai bunga simbolis yang bernilai tinggi, edelweiss juga memiliki sejarah penggunaan obat herbal. Hari ini, bunga edelweiss diekstraksi untuk digunakan dalam serum anti-penuaan dan perawatan kosmetik untuk menenangkan kulit. Daun dan bunganya dapat dimanfaatkan sebagai teh untuk mengatasi sakit perut. Tanaman edelweiss juga tidak memiliki toksisitas untuk hewan peliharaan atau manusia. Di daerah lain, bunga edelweiss adalah sumber nektar dan serbuk sari yang baik serta menarik penyerbuk dengan aromanya
Nama ilmiah bunga edelweiss adalah Leontopodium nivale. Genus Leontopodium termasuk tanaman berbunga pendek lainnya yang memiliki kelopak tebal atau kabur seperti edelweis.
Keluarga yang lebih besar dari tanaman ini adalah kelompok Asteraceae yang mencakup semua jenis bunga aster dan bunga multi-kelopak lainnya dalam berbagai bentuk herba, tanaman merambat, pohon, dan semak belukar.
Karakteristik botani, warna, aroma
Bunga pendek ini tumbuh hanya setinggi 20 sentimeter di alam liar dan 40 sentimeter dalam budi daya. Edelweiss memiliki daun kecil dan kabur, tetapi kelopak bunga putihnya sangat mirip wol.
Secara teknis, bagian putih bunga bukanlah kelopak bunga yang sebenarnya, melainkan bracts, daun yang dimodifikasi, yang jugaditemukan pada tanaman seperti poinsettia.
Kuntum bunga tengah bergerombol di tengah-tengah bunga untuk memberikan penampilan seperti bunga aster.
Sebagai bunga putih yang populer, bunga edelweiss mewakili makna dan simbol kepolosan, kemurnian dan pembaruan, awal yang baru, belasungkawa atau keinginan untuk perdamaian, keanggunan, kejujuran, serta kesempurnaan.
Sumber bacaan:
Semoga semangat literasimu bak edelweiss yang abadi.
With luph
Eka Agisty dari Seruyan.

Komentar
Posting Komentar