Resensi Novel Tentang Caca


 Resensi Novel Tentang Caca

Assalamualaikum,

Jadikan menulis di blog sebagai catatan harian untuk menolak lupa momen.

Kali ini Saya ingin berbagi tentang Resensi Novel Karya Saya "Tentang Caca (Terurai Tak Terlepas). Kegiatan yang digagas oleh Penerbit Lokamedia Cabang Riau, tempat Saya sekarang bernaung sebagai Penulis. Kebetulan Penerbit Lokamedia Cabang Riau tengah memperingati harjad ke 2.

Ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu setiap peresensi harus membawa 1 orang peresensi banding. Saya memutuskan untuk membawa Dilva, si gadis kelas XI IPA. Kebetulan Dilva finalis duta baca Kab. Seruyan  tahun 2022, serta anaknya mudah diajak repot dan gampang paham ketika diajarin sesuatu hal baru. Gampang nyambung.
Yuks, kenalan dulu sama si Resensi!

A. Pengertian Resensi

Kata resensi berasal dari kata “recensie” (Bahasa Belanda) yang berarti membicarakan dan menilai/borderland en besproken. Sepadan dengan bahasa Belanda, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna resensi merupakan pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku. Berdasarkan kedua penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa resensi merupakan sebuah kegiatan menilai atau menimbang kembali.

Resensi buku dapat diartikan juga sebagai usaha untuk memberikan tinjauan kritis atau penilaian terhadap kualitas suatu  buku. Meresensi sebuah buku berarti merupakan aktivitas seseorang untuk menyampaikan gagasan secara tertulis dalam hal mengukur baik buruknya suatu buku. Hal-hal yang diukur dari satu buku tersebut meliputi isi, struktur penyajian, serta manfaatnya bagi pembaca.
Sumber bacaan:


Berikut adalah contoh isi resensi Buku Novel Tentang Caca (Terurai Tak Terlepas) karya Saya.

RESENSI BUKU

1. Judul : Tentang Caca (Terurai Tak Terlepas)
2. Genre : Romantis-Inspiratif
3. Penulis : Agisty Puteri
4. Penerbit : Loka Media Cabang Riau
5. Tebal Buku : 586 Halaman
6. Dimensi : 14 x 21 cm
7. Blurb
Caca terlahir dengan kecantikan alami, kecerdasan diatas rata-rata, dan keluarga yang mapan serta harmonis. Lulus sarjana dengan predikat cum laude diusia 19 tahun, lalu diterima bekerja di perusahaan tambang ternama membuat hidup Caca nyaris sempurna.

Namun Tuhan Yang Kuasa, menitipkan keistimewaan yang membuat kisah hidup dan cintanya menjadi tak biasa. Dibalik kehidupan yang diinginkan semua orang, mengapa Caca ingin melepaskannya?

Bahkan untuk kehidupan asmaranyapun, diantara kehadiran Bian, Agam, bahkan Jimmy. Sederet pria impian para wanita, kenapa hanya Akung yang membuat Caca selalu kembali?

8. Unsur-Unsur Intrinsik
a. Tokoh dan Penokohan
1) Tokoh Utama: Dwita Ekadara Mulya Tan (Caca)
2) Tokoh Tambahan: Agam, Bang Meru, Cici, Akung, Tatyana/Toge, Jimmy.
3) Tokoh Antagonis: Agam dan Mala.

b. Alur Cerita: Menggunakan alur maju mundur dengan penanda yang jelas sehingga tidak membingungkan pembaca.

c. Latar: Jawa Barat (Bogor dan Bandung) tahun Lampung, dan Kalimantan Tengah (Pangkalan Bun) tahun 2000-an.

d. Sudut Pandang: Sudut pandang hampir keseluruhan dalam novel menggunakan orang ketiga, dan pada point of view tertentu menggunakan orang pertama.

e. Gaya Bahasa: Gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa pergaulan sehari-hari. ringan, enak dibaca, mudah dipahami, namun sesuai kondisi dan situasi tokoh.

9. Unsur-Unsur Ekstrinsik
a. Latar Belakang Penulis
Penulis adalah seorang penggiat literasi, yang sedari kecil memiliki hobi membaca berbagai jenis bacaan. Novel berawal dari curhatan sahabat Penulis tentang sahabatnya, sehingga ada beberapa keseharian tokoh juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan Penulis, yang kebetulan pernah berkecimpung di dunia pertambangan. Hal ini sangat mempengaruhi gaya bahasa dan karakter beberapa tokoh.

b. Latar Belakang Masyarakat
Latar belakang masyarakat pada novel ini dominasi oleh kehidupan modern dan demokratis dari sebuah keluarga yang sangat mendukung pendidikan dan karier anak-anaknya. Masa SMA dan kuliah yang penuh persaingan, persahabatan, serta penyesuaian diri yang melelahkan dan penuh tantangan. Persaingan dunia pekerjaan yang didominasi oleh pria. Kehidupan asmara dan LDR.

c. Nilai Yang Terkandung
1) Nilai Moral dan Agama
Kerukunan yang terbentuk dalam keluarga, rasa syukur, kemampuan pengendalian emosi tokoh, serta kesadaran bahwa apa yang terjadi dalam diri dan hidupnya adalah kehendak Sang Pencipta. Kewajiban si tokoh hanya menjalani takdir itu dan lebih berdaya guna bagi banyak orang.

2) Nilai Sosial
Tokoh utama sangat menekankan nilai di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Persahabatan yang solid terjalin lama, serta selalu ada ketika diperlukan.

3) Nilai Budaya
Pembaca diajak untuk berkelana mengenal Budaya Sunda, Budaya Lampung, serta Budaya Kalimantan Tengah. Masing-masing memiliki cara unik untuk menunjukan kesantunan.

10. Kenapa Harus Membaca Novel Tentang Caca Terurai Tak Terlepas?

Novel ini diadopsi dari kisah nyata, sehingga gaya bahasanya lebih mudah dicerna, ringan dan tidak berbelit. Alurnya jelas dan masuk akal. Penuh inspirasi dan motivasi untuk menjalani hidup. 

Tentang gadis belia yang memperjuangkan mimpinya untuk diraih. Tak mudah mengeluh apalagi menyerah, walau cobaan begitu berat datang menimpanya. 

Memberikan kita contoh bahwa berdamai dengan diri sendiri dulu sebelum berusaha berdamai dengan orang lain. Hidup itu tak ada yang instan, perlu proses panjang. Berhenti ketika lelah, lalu bangkit untuk lebih maju bukan hanya sekedar kalimat dan ungkapan namun betul-betul dijalani oleh di tokoh dalam novel ini. 

Insya Allah, setelah membacanya kalian pasti akan lebih menghargai diri sendiri dan bersyukur atas segala pemberian Tuhan YME.

Seruyan, 31 Maret 2023
Salam Literasi


Eka Yulia❤
aka.
Agisty Puteri.

Komentar

  1. Masya Allah Tabarokallah sangat terinfirasi jadi kepengen bisa menulis cerpen semoga bisa aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkunjung Pak Ustad, Ayo tulis aja Pak!

      Hapus
  2. Terima kasih sharing ilmunya bu novelis sayang🙏🏻

    BalasHapus
  3. Masya Allah....
    Keren bu..saya mau membacanya....

    .

    .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Sang Edelweiss